Jomblo itu.. Kesepian itu.. sakit :'

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

First BL Family in Ignis! Let's check it out :)

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

Interview with the owner of Pisnyan, Marysa!

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

First Friends updated! Chapter #03

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

Ignis Awards Part 1!!

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

Ospek Ignis' victims

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

Trio Bikini Interview! Part 2

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

Oneshot Fanfiction by Bamz-kun, yuri hint :P

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

Our all-academy council interview! Check it out :D

Klik gambar untuk melihat selengkapnya :D

I-Magz disponsori oleh O'Tea

Bukan sekedar rasa-rasa!

Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

[03] Oneshot Fanfiction | Fairy Dragon Quest

Fairy Dragon Quest
Chapter 01 - Literature Observe
by : Bamz-Kun


Hoaammm ngantuknya, kelas ini membosankan, semua yang dijelaskan Professor ini sudah aku pahami sebelumnya.
Tapi memang bukan styleku deh duduk di dalam kelas belajar teori begini, aku lebih tertarik duduk berlama-lama di perpustakaan, belajar apapun yang aku mau dan bebas memilih mata pelajaran yang aku inginkan. History, Quantumath, Weaponsmith, Mechprogramming, Equilibrium Physic, Alchemistry dan masih banyak lagi.
Ah belum lagi setelah kelas ini ada kelas mata pelajaran Magicology I, aku paling lemah soalnya magic. Mending bolos aja ah.
Elano berpikir bagaimana cara untuk bisa keluar kelas tanpa diketahui professor tua yang sedang sibuk menulis rumus-rumus Quantumath di papan tulis sambil berbicara membelakangi murid-muridnya. Murid-murid di kelas itu memang tampak tenang namun jelas terlihat di antara mereka ada ekspresi bosan terlukis pada wajah mereka.
Ah mungkin ini saat yang tepat untuk mengetes alat ciptaanku itu. Senyum nakal muncul diwajah Elano.
Elano kemudian meraba lehernya, di balik syal panjang yang selalu dikenakannya melingkar sebuah choker berwarna perak. Jari Elano menekan tombol yang ada di tengah choker tersebut. Dan tanpa mengeluarkan suara, dari balik choker itu muncul semacam membran tipis yang kasat mata dan secara perlahan menutupi seluruh permukaan tubuh Elano bahkan pakaiannya.

Fufufu Nano Technologi is really awesome.
Setelah seluruh permukaan tubuhnya dilapisi membran itu. Perlahan-lahan tubuh Elano mulai menghilang, teman-teman Elano di bangku kiri dan kanannya tidak menyadari hal tersebut.
 Hihi untung tempat duduk ku paling belakang jadi trik ini mudah dilakukan. Aku harus bergegas keluar dari kelas ini karena membran ini hanya dapat bertahan 8 detik. Lalu dengan gesit Elano menyelinap keluar tanpa diketahui teman-temannya dan Professor Tua yang sedang mengajar itu.
Mudah sekali! cengenges Elano saat ia sudah berada di koridor luar kelasnya. Membran itu sudah menghilang dan dengan santainya Elano melenggang pergi. Saatnya belajar yang benar~ kata Elano dalam hati, lalu berjalan dengan santai menuju perpustakaan Ignis Academy.
Perpustakaan Ignis berada di tengah-tengah kompleks akademi tersebut. Bangunan perpustakaan itu sangat besar dan terdiri dari beberapa lantai. Tiap lantai menyimpan buku sesuai dengan level-nya, semakin tinggi lantainya maka semakin tinggi juga level atau kualitas buku tersebut, misalnya pada lantai dasar disimpan buku-buku Weaponsmith I dan pada lantai II tersimpan buku Weaponsmith II dan seterusnya. Tidak diketahui berapa jumlah lantai bangunan tersebut karena hak akses dibatasi untuk pengunaannya. Siswa dengan level Newbie hanya boleh membaca buku di lantai dasar, sedangkan siswa dengan level Rookie boleh membaca buku-buku di lantai 2.
Elano sudah sering keluar-masuk bangunan perpustakaan ini tetapi tetap saja ia terkagum-kagum dengan gaya arsitektur bangunan perpustakaan tersebut.
Ah ini baru namanya ruang kelas, besar dan megah. Juga kemungkinan semua pengetahuan manusia dari seluruh Naltervil terkumpul disini, aku dengan bebas memilih dan belajar yang aku ingini, bukan di ruang kelas sempit dengan mendengar ceramah guru yang membosankan.
Elano masuk ke dalam perpustakaan besar itu. Hanya terlihat beberapa siswa yang berada di sana karena sebenarnya saat ini masih jam pelajaran. Elano melangkahkan kaki menuju tangga untuk naik ke lantai 2. Ia menunjukan badge Rookie-nya kepada 2 penjaga di dekat tangga yang langsung memeriksa lalu mengijinkan Elano naik ke lantai selanjutnya. Lantai 2 terlihat lengang, tidak terlihat satu pun siswa, kecuali beberapa pustakawan yang sedang menyusun buku pada rak-rak yang tinggi dan besar itu.
Hmm saatnya menyelinap ke lantai 3 guman Elano.
Dengan alat yang sama saat menyelinap keluar kelas tadi, Elano dengan mudahnya masuk tanpa disadari para penjaga dilantai 3.
Ruangan lantai 3 hampir terlihat sama dengan ruangan lantai-lantai di bawahnya, hanya saja ruangan ini terlihat sangat sepi, tidak ada siswa dan bahkan tidak ada pustakawan. Memang ruangan ini masih belum dibuka karena belum ada siswa yang memliki level High Rank.
Apa yang akan kubaca hari ini yah? gumam Elano. Oh iya satu jam lagi pelajaran akan selesai, aku ada janji dengan Kak Firya untuk pergi ke Ranch-nya Pak Simon, jadi mungkin aku membaca yang ringan-ringan saja semacam Dragonology.
Elano berjalan menuju sekumpulan rak besar di sebelah kiri ruangan. Di depannya ada sebuah papan petunjuk yang diletakan dengan sebuah kaki besi untuk penyangganya, bertuliskan ‘Dragonology III’.
Hmmm, aku baru membaca seperempat buku tentang Fairy Dragon. Akan ku teruskan membaca buku itu saja. Elano mendorong dengan hati-hati sebuah tangga menuju rak buku yang ia inginkan. Tangga tersebut memiliki roda dan rel sehingga mudah untuk digeser untuk naik mencapai rak buku yang paling tinggi. Rak buku itu tingginya 6 meter. Elano berhenti pada rak buku yang memiliki plakat terpatri dengan judul Dragon Type. Ia naik tangga untuk mencari buku yang diinginkannya.
Buku tentang Fairy Dragon berada di rak paling atas dan Elano sudah berada di ujung tangga paling atas. Matanya dengan teliti mencari buku bertuliskan Fairy Dragon, tetapi sebelum ia menemukan buku itu Elano dikagetkan oleh suara yang berasal dari bawah.
Hey ! Nice view !”.
Sial aku ketahuan Penjaga! umpat Elano, tetapi saat ia menoleh ke bawah kekhawatirannya hilang dalam sekejap, berubah menjadi rasa senang.
“Ah sialan kamu Prisa, buat kaget saja!” Elano memasang wajah cemberut yang dibuat-buat ke arah Prisa.
Gadis yang di bawah itu hanya tersenyum manis. Dilihat dari pakaiannya ia juga seorang siswi dari Ignis Academy.
“Kamu itu masih newbie, ga boleh masuk ke lantai 3 ini!” ujar Elano sambil mengambil sebuah buku dari rak yang bertuliskan Fairy Dragon.
“Hehe kamu juga baru Rookie khan, Newbie dan Rookie dilarang masuk ke lantai 3 ini..” jawab Prisa.
“Apa yang kamu lakukan di sini Prisa-chan?”
“Ah, iseng kok. Tadi aku melihat kamu menyelinap dari ruang kelas jadi aku ikut menyelinap juga karena penasaran dengan apa yang akan kamu lakukan.”
“Belajar di kelas membosankan!” kata Elano sambil membuka halaman buku yang dia ambil tadi dan membacanya sambil masih berada di atas tangga.
“Haha Ela-chan banget,” kata Prisa, “ano, Ela-chan...”
“Iya, ada apa?”
“Panties warna hitam itu terlihat seksi loh,”
“APAAAA?!!! Jadi maksud kamu ‘nice view’ tadi itu kamu ngintipin aku dari tadi ya?!!” Elano kaget.
“Iyaahh~ dari bawah sini terlihat dengan sangat jelas lho..” Prisa tersipu-sipu.
“Ah dasar kamu itu, bukannya sudah sering lihat?” Elano turun dari tangga lalu mencubit pipi Prisa dengan lembut.
“Hahaha, buku apa yang kamu baca Ela-chan..?”
Elano memperlihatkan sampul buku itu kepada Prisa.
“Ah Fairy Dragon, kamu masih berusaha untuk mencari mereka ya?”
Elano mengangguk sambil terus membaca.
“Menemukan mereka itu hampir mustahil loh, rumornya yang tahu dimana dan kapan telur-telur Fairy Dragon menetas hanya para Peri Hutan. Dan menemukan Peri Hutan itu jauh lebih susah dari pada mencari Fairy Dragon-nya sendiri,” sambung Prisa.
“Kenapa gak mencari Dragon tipe Assault saja yang lebih mudah ditemukan..?” katanya lagi.
“Aku punya alasan sendiri sih,” sahut Elano,  Fairy Dragon adalah mahluk mistis yang penuh dengan energi magic. Aku tidak berbakat soal magic bahkan pelajaran tentang magic di kelas dan di perpustakaan ini pun susah buat masuk ke otakku”.
Elano membalik lembaran pada buku yang dipegangnya.
“Hm.. aku berpikir dengan memiliki Fairy Dragon, aku bisa menguasai magic dengan lebih instan”.
“Haha, Ela-chan cuma tertarik sama senjata, alchemist, dan enginering sih.. Kepintaranmu digunakan untuk hal-hal berbau teknologi seperti itu,” kata Prisa sambil menyentuh lembut pundak Elano, “tapi bagaimanapun susahnya mendapatkan Fairy Dragon aku akan selalu mendukung mu” ujarnya sambil tersenyum manis.
“Terima kasih yah Prisa-chan.” jawab Elano dengan cool sambil terus membaca buku yang dipegangnya.
“Iiihhh kok sok cool begituh! Tersipu malu dong, biar manis~” kata Prisa sambil berusaha mencubit kedua pipi Elano dengan kedua tangannya.
Saat Prisa mendekat tanpa sengaja kakinya tersandung rel tangga rak buku dan terjengkang ke arah Elano. Keduanya jatuh di atas lantai dengan posisi Prisa menindih Elano.
“Hmm... kamu sengaja mau menggodaku ya Prisa-chan...?” Elano mengerling nakal. Buku Fairy Dragon terjatuh di samping mereka.
“Ahahaha tadi itu ga sengaja kok, tapi begini juga asik..” Prisa memeluk tubuh Elano dan wajah mereka hampir tak berjarak lagi. Elano bisa merasakan hembusan napas hangat Prisa di wajahnya dan begitupun sebaliknya. Untuk beberapa saat mereka menikmati keadaan tersebut.
“Ayo bangun Prisa-chan, ini saatnya aku belajar loh”
“Ah maap Ela-chan...” lalu Prisa bangun dengan perlahan.
Prisa membantu Elano berdiri. Keduanya merapikan pakaian seragam mereka yang sedikit awut-awutan.
“Aku belajar dulu yah.” kata Elano
“Iyaah semoga sukses yah sama Fairy Dragonnya!” Prisa mengacungkan tanda V ke arah Elano dengan jarinya.
“Eh nanti makan siang bareng yuk ditempat biasa...” ujar Elano.
“Makan siang sambil nyantai di padang rumput belakang sekolah yah? Ayo ayo setuju sekali!” wajah Prisa tampak berseri-seri.
“Tapi tunggu sebentar yah aku mungkin telat sedikit, kamu duluan aja ke sana, Prisa-chan. Aku sama kak Firya mau ke Ranch-nya Pak Simon setelah ini.”
“Sama Kak Firya..?” wajah Prisa tampak curiga.
“Hus jangan berpikir yang ngga-ngga ya.”
“Hehe ga kok~” ujar Prisa, “bye-bye Ela-chan!”
Elano melambaikan tangannya pada Prisa sambil memandang tubuh gadis itu berjalan dan perlahan menghilang di balik rak-rak buku yang besar itu.
Sebenarnya dari tadi Elano menahan detak jantungnya yang kencang.
“Huff untung Prisa sudah pergi. Kalau tidak....” wajah Elano tersipu merah membayangkan kejadian barusan.
“Ah jangan berpikir yang iya iya deh. Saatnya kosentrasi pada buku ini, waktuku cuma satu jam.” Elano melangkah ke meja besar yang terletak di tengah ruangan perpustakaan itu, menarik kursi dan menghidupkan lampu baca yang terdapat di meja itu. Ia duduk dan dalam sekejap kembali tenggelam dalam bacaannya.
[End]

[03] First Friends | Chapter #03 - Far Away From Home

Chapter 01 : click here
Chapter 02 : click here

First Friends
Chapter 03 - Far Away From Home
by : Bamz-kun
“Renee-chan coba dengarkan detak jantung pada rongga dadanya, Jika melihat kondisi tubuhnya yang sudah terlihat sangat kelelahan bisa jadi tubuh dan sendi-sendinya sudah kaku sehingga denyut nadi susah ditemukan pada pergelangan tangannya” kata Firya.
“Ah benar juga Kak Firya, aku mengerti!” sahut Renee.
Renee segera membuka sedikit jaket gadis yang tergeletak itu. Ia menempelkan telinganya ke dada kiri gadis tersebut dan berkosentrasi untuk mendengarkan suara detak jantungnya.
“Ah....!” seru Renee, “aku merasakan detak jantungnya tapi lemah.”
Firya dan Suzaku yang dari tadi tampak cemas menunjukan ekpresi sedikit lega.
“Harus segera ku tolong!”

Sembari berkata begitu Renee merentangkan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke atas. Kedua matanya tertutup dan mulutnya menggumamkan kata-kata yang tidak terdengar dengan jelas. Walau udara pada siang hari itu terasa sangat panas namun perlahan-lahan muncul hawa sejuk. Hawa sejuk itu berasal dari tubuh Renee dan terkosentrasikan pada kedua telapak tangannya.
Lalu Renee menempelkan kedua telapak tangannya itu ketubuh sang gadis, hawa dingin sekejap merasuki tubuh gadis itu, hawa itu juga dirasakan Firya dan Suzaku yang berdiri di belakang Renee. Beberapa saat Renee menyalurkan tenaga penyembuhnya, wajah pucat gadis itu mulai tampak mulai memerah dan luka-luka ditubuhnya bergenerasi dengan cepat, luka-luka kecil seperti goresan dan lecet sembuh dengan cepat namun luka-luka besar masih tersisa.
“Selesai.”
“Bagaimana keadaan nya Renee-chan ?” tanya Firya dan Suzaku hampir bersamaan.
“Masa kritis nya sudah lewat, kondisi tubuh 20% namun tetap butuh pertolongan lebih lanjut karena sifat healing ku hanya untuk pertolongan pertama” jawab Renee.
“Luka dalam dan pemulihan tubuh memerlukan perawatan lebih intensif. Ia harus segera dibawa ke Rumah Sakit di Ignis Academy. Jika tidak, kondisinya akan semakin memburuk lagi”.
“Baiklah segera kita bawa dia ke Rumah Sakit Ignis Academy” kata Firya.
“Tapi Kak Firya, kita kan sedang ujian lapangan.. Jika kita mengantar dia ke Rumah Sakit dan keluar dari area gurun Bedlens ini kita akan didiskualifikasi dari ujian” sahut Suzaku.
“Baiklah kalau begitu biar aku saja yang mengantar dia, kalian teruskan ujian lapangannya.” ujar Firya, “Posisi bendera sudah ditemukan belum Suzaku-chan?”
“Iya sudah ditemukan kak tapi...”
“Tapi apa Suzaku-chan..?”
“Gurun Bedlens ini berbahaya kak, berpergian sendirian apalagi sambil membawa orang yang tak berdaya begini...” Suzaku tidak menyambung perkataannya.
“Iya kak, sebaiknya kami temani juga. Jika di tengah jalan kakak bertemu sekelompok Thermal Lizard, bisa fatal akibatnya” timpal Renee.
“Renee, Suzaku, dengar...” Firya menepuk pundak Suzaku dan Renee, “Kita sudah dilatih bahwa misi itu nomor satu kan? Walau ini ujian lapangan tapi ini adalah sebuah misi yang harus kita tuntaskan. Kita jangan bertindak gegabah walaupun ada kejadian-kejadian tak terduga seperti ini”
Ia terdiam sejenak, “Justru ini lah inti dari kerja sama tim, misi selesai dan menyelamatkan orang juga” Firya menyunggingkan senyumannya.
“Tapi kak....”
“Kenapa Renee-chan? Masih mengkuatirkan aku?”
Renee menggangguk pelan.
“Kamu lihat cewek yang teluka ini,” tunjuk Firya ke arah gadis yang masih terbaring di atas pasir itu, “dia seorang diri dan sedang terluka parah tapi dia masih hidupkan? Itu artinya dia kuat dan aku ga mau kalah dari dia.”
Mata Firya memercikkan kilau penuh percaya diri yang tinggi. Api yang berada di ujung-ujung rambut Firya tampak berkobar-kobar menyala lebih terang.
“Lagi pula ujian lapangan ini hanya berebut bendera saja, bukan...? Tidak ada pertarungan, jadi dengan jumlah 2 orang, kemungkinan menang masih sangat besar.” kata Firya mengatur strategi.
Renee dan Suzaku tampak setuju dengan ide Firya tersebut.
“Baiklah Kak, kami berdua akan pergi mendapatkan benderanya..” kata Suzaku.
“Oke, keputusan sudah dibuat.” sambil berkata demikian Firya mengangkat tubuh gadis yang pingsan tersebut dan mengendongnya di punggungnya.
“Sukses yah Suzaku-chan, Renee-chan, jangan kalah dengan Tim Arlene.”
“Iya kak, kami akan berusaha sebaik mungkin!” jawab Renee.
Setelah berkata demikian, Renee dan Suzaku memisahkan diri dan pergi menuju ke arah selatan, sementara Firya pergi mengambil arah ke timur laut.
Firya berlari dengan kecepatan tinggi di atas hamparan pasir panas gurun Bedlens tersebut. Postur tubuh gadis yang digendongnya tersebut memang  lebih besar dari postur tubuh Suzaku yang di gendongnya sebelumnya, namun sepertinya itu tidak menjadi kendala, kecepatan lari Firya masih tetap luar biasa.
Walau dalam keadaan tidak berdaya, kesadaran gadis yang digendong ini sudah sedikit pulih. Ia bisa mendengar dan merasakan keadaan di sekitarnya walau masih samar-samar.
I...ini dimana?
Siapa yang mengendong aku ini?
Samar-samar Elano dapat melihat kibaran rambut merah Firya yang mengenai wajahnya.
Orang ini...pelukannya hangat, bentuk tubuhnya seperti.....seperti Ibuku. Tapi tidak mungkin! Ibuku sudah gugur di medan perang beberapa hari yang lalu.
Sepertinya tadi juga aku mendengar suara dua orang gadis lain, mungkin mereka berpisah dan wanita yang mengendong aku ini berusaha menolong aku. Seandainya mereka tentara Sin, mungkin aku sudah dihabisi sedari tadi.
Elano dalam keadaan setengah sadarnya berusaha menebak-nebak apa yang terjadi dengan dirinya.
Aku tidak menyangka ditengah gurun luas begini masih ada orang yang lewat...atau aku memang seberuntung itu? ...Aku pikir aku bakal mati tadi.
Dan juga gurun apa ini...
Aku belum pernah melihat bentuk pohon aneh yang berbentuk seperti payung raksasa itu.
Waktu itu keadaan di Kerajaan Corvus benar-benar kacau dan Ibuku mengunakan Talisman of The Wind untuk memindahkanku keluar dari Ibukota Corvus. Tapi ini dimana...
Tempat ini benar-benar asing. Seluruh pelosok Benua Havalla sudah pernah aku jelajahi dan pelajari dan aku yakin sekali belum pernah aku melihat bentuk pohon seperti yang tumbuh di gurun ini.
Atau jangan-jangan....
Elano kembali teringat ucapan terakhir Ibunya
‘Ela-chan, Jaga baik-baik Key of Harfango ini, jangan sampai Kerajaan Sin memilikinya, Terlalu berbahaya jika mereka menguasai Corvus Ballista.’
Aku ingat tentang Corvus Ballista. Dulu guru weaponology-ku pernah menyebutnya sekali, senjata itu.....senjata pemusnah massal. Sangat berbahaya bila digunakan orang yang salah.
Katanya senjata itu buatan Dewa sendiri, Hadiah yang jatuh dari langit. Jadi Ibu mempercayakan Kunci Senjata yang berbahaya itu...untuk ku? Seorang gadis berumur 19 tahun? Rasanya terlalu beresiko untuk dipercayakan padaku walau aku anaknya sendiri.
Kecuali...
Ah...mungkin hanya itu penjelasannya, tempat asing ini. Pohon aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya, kunci senjata pemusnah massal yang dipercayakan pada gadis kecil ini.
Waktu itu Ibu bukan mengunakan Talisman of The Wind untuk memindahkan aku keluar dari Kota Corvus tapi dia mengunakan....
Ah!
Talisman of The Light untuk memindahkan aku ke parallel universe yang lain.
Aku benar-benar jauh dari rumah sekarang.

Kamis, 30 Agustus 2012

[02] Amaranth | Chapter #01 - More Than Meets The Eye

Amaranth
Chapter 01 - More Than Meets the Eye
by : Hajime Aikawa

I don't know since when I have this feeling, but I never thought that even an alien like me can have that feeling,
Yes, an alien. That's what they usually called me, because I looked so physically different with them. At first, I saw human as no more than just a host for my offspring. But until that day, my opinion toward them had changed. Maybe it's because I also bear their strain as well, I'm not sure.
It all started at that fateful day, when I was badly wounded because of my battle against that warrior. He was the one who found me unconscious near the complex of his Academy. I'm not sure what is his reason of taking care of me, he must be afraid of me just like the other humans did.
But he didn't.

I woke up in a large room that dominated by the color grey. I saw some of my wounds were patched and bandaged although most of them are almost torn. That time I don't know who did this and who had bring me here.
"So you're already wake up...how's your feeling?" a deep voice from the side of the room made me took a glance to where the voice came.
I opened my mouth to speak, but unfortunately I speak no human language at all even though I can understand it.
"Well I assume you had feeling better, you got some nasty wounds on your body and it's hard dealing with the acidic blood of yours, until I have to use my magic to neutralize it a bit. I wonder what kind of person who can make something...or someone like you wounded that badly..."
Then I remember that fight, my battle with that warrior because I had killed his comrades on my way out of their ship. Maybe it's just my luck that I survived and ended up here.
"Seems like you don't speak our language, but let me introduce myself...my name is Mozart and this is Ignis Academy of mine. I hope you can get better and you can decide what to do next once you're okay...either you can go or stay with us and lend us your strength, because I see some potentials in you. Until then, just rest so you can get better quick...okay?"
Then he left the room. This left me some mixed feeling, because no one ever did this to me. I feel like being comforted and this give me such a nice feeling.
He took care of me until I get better and somehow I felt like I have to repay his kindness. So I decided to stay in Academy and lend my strength for them.

At first it was hard to adapt myself there,especially since he forbid me to harvest from human, blame my genetic habit, so I have to find the alternative with other creatures that live surround there.
Time by time, I started to get along with the others, even though my children often scare those whom kinda unlucky if they met one of them lurking in the darkness. Fortunately even with our genetic intelligence, I can train them so they won't harmful to humans.
Even though I can get along with the others, my mind is still toward that guy. Seems like I can't get him out of my mind. But this time the feeling is somewhat different, it's as if I desired him.

Desired for him being a host for my child?
No,it's different...it's...unexplained...I can't even figure out what kind of feeling is this. But I always wanna be near him. It strangely made me feel calmer, maybe because he's the person who saved my life before.
Sometimes what I did makes him scared,kinda upset and seems like there's nothing I can do about it. It's hard for us to communicate each other for me being an alien, even though I can understand what human said. But with no coherent language that I can speak of, it's hard for me to say that I do care about him and wanna repay his kindness.
"Chet-kun, why you looked so gloomy? Is there anything on your mind?" The pink-haired girl Marysa, Mozart's sister approaches me with one of my child. She's the second person who have enough courage to communicate with me and even not afraid to my child. Only to her I can 'speak' my feeling even though not that perfect.
"Ahh so you wanna talk to my brother but he always afraid of you and your xenos? Hmf...he's somewhat afraid of bugs and he thought that your xenos are like giant bugs to him...but isn't it supposedly he's getting used with it...it's been more than a month you live here and he often saw them around...moreover he's the one who took care of you and letting you live here...stupid brother..." Marysa pouted as she ended her words. I always like her straightforward attitude and she seemed fearless to anything, makes me more comfort to talk to.
"Chet-kun... You like my brother, don't you? "
My eyes widened when Marysa asked it to me. I like Mozart? What the term of 'like' here?
My head tilted to side as an answer.

"Ummm...like as in, you put some attention to someone, you cared about him and you wanna be with him... Stuff like that... Is an alien have that kind of feeling too?"
Like...huh? I'm not even sure if I did, but what Marysa explained to me is sort of true, so maybe it's that feeling that I hold to him so far.
Suddenly Marysa grabbed my hand and said, "Chet-kun, you have my full support... After he lost his couple some times ago, he seemed having no interest to have another and he somehow looked sad if he remember his ex... I hope one day you two can be happy as a couple, of course I'll help... Don't worry, even an alien can love too...love have no boundaries, no? I'll teach you more about this, okay?"
I looked somewhat confused but seems like Marysa really serious to what she said, well she is always serious and will do anything to get what she want. I nodded and smiled a bit. I'm so happy that I finally have someone that I can rely to help me with my feeling.

To be continued

[02] First Friends | Chapter #02 - Is it too late ?

Chapter 01 : click here

First Friends
Chapter 02 – Is it too Late ?
by : Bamz-kun

                Firya, Suzaku, dan Renee tiba dibawah batang pohon Socorta itu, Mereka tampak terkagum-kagum melihat begitu besar-nya pohon itu. Pohon itu tingginya kira-kira 15 meter, batang pohonnya tampak seperti sekumpulan ular besar yang keluar dari dalam tanah saling bergelung dan melilit satu sama lain dan membentuk sebuah pilar raksasa yang tampak kokoh lalu pada puncak pohonnya tumbuh dahan-dahan yang melebar membentuk sebuah bidang seperti sebuah payung raksasa dan pada dahan-dahan yang menghadap ke langit tumbuh ribuan daun-daun berbentuk seperti jarum-jarum berwarna hijau. Sekumpulan dahan-dahan yang melebar seperti payung itu sangat rapat sehingga mampu menghalangi sinar matahari yang terik dan membuat bayangan besar dibawah kaki pohonnya.
                “Ah akhirnya bisa berteduh juga, panasnya matahari ini menyiksa” ujar Renee sambil menepuk nepuk pipinya dengan telapak tangannya.
“Huh panas begini sih ga ada artinya” timpal Suzaku.
“Ehh kamu sih enak digendong terus dari tadi, aku kan juga berlari terus seharian ini”
Suzaku hanya tersenyum “Kamu masih marah yah gara-gara aku goda tadi ya ?” Suzaku mengambil sapu tangan dari kantongnya dan menyeka keringat dari kening dan pipi Renee dengan lembut. Wajah Renee yang semula tampak cemberut perlahan melunak lalu tersipu malu. Mereka saling menatap penuh arti.
“Aduh-aduh kalian ini, tadi bertengkar sekarang sudah mesra begini”. Celetuk Firya.
Suzaku dan Renee hanya terdiam dengan wajah bersemu merah.
“Ayo siapa yang mau memanjat pohon ini untuk melihat keadaan sekitar”. kata Firya lagi sambil menunjuk keatas pohon tersebut.
“Biar aku saja kak yang memanjat” sahut Suzaku.
“Biar Kak Firya dan Renee istirahat dulu karena sudah berlari seharian ini”.
“Baiklah Suzaku kami serahkan padamu, semoga posisi benderanya kelihatan dari atas sana.” Jawab Firya.
“Hati-hati memanjatnya Suzaku-chan”. Timpal Renee.
“Teehee, Tenang serahkan padaku”.
                Suzaku mengambil jarak kira-kira 10 langkah dari akar batang pohon Socorta tersebut. Matanya memandang tajam kearah atas pohon kearah dahan-dahan yang melebar seperti payung itu sambil menimbang-nimbang tinggi pohon dan sedikit siasat untuk memanjat.
“Hmm batang pohon ini tingginya sekitar 15 meter, tidak mungkin sampai keatas hanya dengan satu lompatan, belum lagi kumpulan dahan yang melebar seperti payung itu akan merepotkan jika aku harus melompat lagi menuju tepinya, jarak dari ujung atas batang pohon ke tepi dahan paling tidak ada sekitar 8 meter.” membenak Suzaku.
“Satu-satunya cara tercepat adalah menembus sekumpulan dahan itu agar sampai kepermukaan teratas”.
Lalu Suzaku mengambil ancang-ancang sambil mulutnya mengumankan kata-kata yang terdengar seperti bisikan.
"The truth will always win, because I’am the Truth.
Punishment will destroy my enemies, because I’am the Punishment
in the name of the Judge Ellhaym, I will destroy all sinners
Then come to me all the Punisher sword into this world"
 Setelah kata-kata itu selesai diucapkan tiba-tiba dari kedua belah tangannya muncul sinar yang menyilaukan dan membentuk sebuah magic circle dan dari magic circle tersebut keluar sebuah benda, sebuah pedang panjang berwarna keemasan muncul dari kedua belah tangan Suzaku. Kedua pedang itu tampak sama dan dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang indah, pedang-pedang itu tampak berat namun Suzaku terlihat begitu enteng mengenggam kedua pedang tersebut.
Secepat kilat yang menyambar, Suzaku melempar pedang yang ada ditangan kiri-nya kearah pertengahan batang pohon Socorta tersebut. Pedang itu menancap pada batang pohon tersebut lalu dengan lincahnya seperti seekor burung walet Suzaku melompat keatas, rok panjangnya berkibar-kibar dan meninggalkan debu pasir dibawahnya. Suzaku mengunakan pedang yang menancap di batang pohon sebagai pijakan untuk melakukan lompatan kedua. Pada lompatan kedua tubuh Suzaku meliuk-liuk dan gerakannya berubah menjadi putaran yang sangat cepat. Pedang ditangan kanan diacungkan keatas sehingga kini Suzaku tampak seperti sebuah bor raksasa yang melesat dengan kecepatan luar biasa. BRAAAKKKKK!!! BRAAAKKK!! Suara keras memecah kesunyian, suara dahan-dahan pohon yang patah dan tertembus oleh pedang Suzaku. Hanya sekejap saja sekumpulan dahan itu tertembus oleh Suzaku dan meninggalkan lubang besar berdiameter sekitar 2 meter dan cahaya matahari dapat merembes melalui lubang tersebut. Kini pohon Socorta tersebut tampak seperti payung bocor.
                Suzaku berdiri dengan mantap diatas permukaan teratas, angin pada ketinggian ini lumayan kencang, rambut panjang Suzaku berkibar-kibar ditiup angin. Tangannya mencoba menghalangi angin sehingga poninya tidak menganggu pandangan matanya dan juga menghalangi sinar matahari yang cukup terik yang menyilaukan. Suzaku menatap hamparan pasir yang luas tersebut, benar sekali dengan ketinggian seperti ini Suzaku dapat melihat dengan leluasa keadaan sekitar gurun tersebut. Matanya mencari dengan teliti ke seluruh penjuru untuk menemukan benda yang mereka cari. Mata Suzaku berhenti pada sebuah objek kecil di kejauhan, objek itu memantulkan cahaya matahari dan menimbulkan kilatan cahaya.
“Ketemu !!!”
Senyum senang muncul dibibir Suzaku. Benda dikejauhan itu adalah sebuah bendera yang diikatkan pada sebuah tiang besi yang tertancap diatas sebuah gundukan pasir, tiang besi inilah yang memantulkan cahaya matahari sehingga kilatan cahayanya bisa terlihat dari jauh dan pada bendera yang berkibar-kibar itu tercetak dengan indah sebuah logo berwarna merah bergambar sebuah lidah api.
“Bagus!!! Tampaknya tim Arlene belum mendapatkan bendera itu, jika sekarang bergegas kesana dipastikan tim kami yang menang”. Guman Suzaku riang.
“Aku harus segera turun dan memberitahukan hal ini pada Kak Firya dan Renee”.
Suzaku bergegas menuju lubang jalan dia masuk tadi untuk turun dari sana. Saat melihat kebawah melalui lubang tersebut tiba-tiba mata Suzaku menangkap sebuah benda atau tepatnya sesosok tubuh yang tergeletak disisi lain pohon tersebut membelakangi posisi Firya dan Renee duduk, posisi sosok tubuh itu tidak terlihat dari posisi Firya dan Renee karena terhalangi oleh gundukan pasir.
“Astaga mayat siapa itu” guman Suzaku.
Suzaku melompat turun dan mengunakan pedang yang tertancap pada batang pohon untuk pijakan lompatan keduanya. Suzaku mendarat dengan ringan diatas permukaan pasir.
                “Bagaimana Suzaku-chan, ketemu posisi benderanya ?” Bertanya Renee dengan tidak sabar. Tapi Suzaku tidak menjawab dia malah bergegas menuju gundukan pasir di belakang Firya dan Renee.
 “Coba kalian liat ini !” Kata Suzaku.
Firya dan Renee hanya saling pandang binggung apa yang terjadi.
“Cepat!!! Coba kesini sebentar !!!” sentak Suzaku.
Firya dan Renee walau masih terlihat bingung mereka segera bergegas menghampiri Suzaku.
 “Ada apa Suzaku-chan...?” Firya bertanya.
“Coba kalian lihat ini ?” Tunjuk Suzaku kearah bawah cerukan gundukan pasir tersebut. Alangkah terkejutnya Firya dan Renee melihat apa yang ditunjuk oleh Suzaku. Tepat di cerukan gundukan pasir tersebut tergeletak sesosok tubuh manusia yang tertelungkup, rambutnya berwarna seperti bunga Sakura, mengenakan jaket dan celana pendek berwarna merah, pakaiannya sudah tidak rapi lagi tampak lusuh dan robek dibeberapa tempat dan juga ternoda darah dibeberapa bagian pakaiannya. Tubuhnya juga banyak luka-luka yang tampak sudah mengering. Dipinggangnya terikat dua buah tas yang tergantung pada ikat pinggangnya dan dilehernya terpasang sebuah slayer berwarna hijau yang sangat panjang. Semilir angin yang berhembus menebarkan sedikit bau mesiu yang berasal dari tubuh gadis tersebut.
“Astaga!!!” “Apa dia sudah mati ?” kata Firya
“Biar aku cek kak Firya” sahut Renee.
Renee bergegas menghampiri sosok tubuh itu dengan perlahan Renee membalik tubuh yang tertelungkup itu.
“Ah seorang gadis, kasihan sekali”.
Renee membuka sarung tangan kanan gadis itu dan menggenggam pergelangan tangannya dengan jempol yang menempel pada urat nadi untuk mencari denyut nadi gadis itu.
 “Bagaimana keadaannya Renee-chan” tanya Suzaku.
“Ssttt sebentar aku harus berkosentrasi”.
Renee dengan seksama mencari-cari denyut nadi gadis itu tapi dia tidak merasakan apa-apa.
“Sepertinya sudah terlambat”.

To be contimue....

Senin, 18 Juni 2012

[01] First Friends | Chapter #01 - Trapped!

First Friends
Chapter 01 - Trapped!
by : Bamz-kun



     Aku terus berjalan, langkah kaki yang terseok-seok karena sudah hampir kehilangan tenaga ini aku paksakan untuk melangkah diatas pasir yang panas ini, entah apa nama tempat ini, sepanjang mata memandang hanya hamparan pasir dan rerumputan kering dan juga pohon-pohon besar yang aneh berbentuk seperti payung tumbuh dengan jarang di hamparan padang pasir yang luas ini

     Matahari diatas kepalaku ini terasa begitu besar dan panasnya menyengat, keringat yang mengucur dari pori-pori kulitku hanya menambah perihnya luka-luka ditubuhku ini
     Aku berada di tempat asing, jauh dari rumah tapi tempat yang dipanggil rumah itu sekarang mungkin sudah tidak ada, Kerajaan Corvus sudah tidak ada
     Hanya aku yang mungkin tersisa dan aku harus pergi sejauh-jauhnya dari sana, Ughh... panasnya... perihnya luka-luka ini aku hampir tidak tahan tp ada sesuatu yang penting yang harus aku jaga, mereka tidak boleh memiliki kunci ini
     Saat ini Kerajaan Sin sudah sangat kuat, apalagi jika mereka memiliki benda itu, sudah dipastikan hanya kehancuran yang tersisa.
     Ah jadi nasib dunia ini tergantung ditangan gadis kecil yang sudah sekarat ini, ini lelucon yang buruk.

---

     Elano terus berjalan dengan sisa-sisa tenaganya, namun tenaga gadis ini sudah hampir habis. Berjalan selama 3 hari tanpa makan dan minum, luka-luka yang tidak terawat dan terjebak di  gurun pasir luas bernama Bedlens ini sudah melampaui kekuatannya. Walau hampir selama 13 tahun Elano sudah terlatih sebagai Militia pada Kerajaan Corvus dan melalukan latihan dan misi yang sangat berat.
     Ibu Elano adalah salah satu Jendral perang di Kerajaan Corvus telah mendidik dan mengembleng Elano sejak kecil untuk menjadi prajurit yang kuat. Tapi kekuatan itu sudah hampir habis, di dera luka fisik dan mental selama beberapa hari ini sudah cukup membuat manusia yang terlatih sekalipun dapat menyerah.

     “Gawat pandangan mataku sudah berkunang-kunang, aku sudah tidak bisa merasakan kaki ku lagi, apa ini akhirku ?”
     “Baiklah, walau mungkin hidupku berakhir disini tapi kunci ini juga hilang selamanya bersamaku”
     “Gurun luas yang entah berada dimana ini sepertinya sangat terpencil, mereka pasti seperti mencari jarum didalam tumpukan jerami untuk menemukan key of harfango ini."
     "Aahh maafkan aku ibu, Elano cuma bisa sampai disini, Elano ingin ketemu ibu lagi”.

     Lalu tubuh gadis itu tersungkur diatas pasir yang panas itu, tubuhnya jatuh berguling-guling dari puncak gundukan pasir yang tinggi kebawah cerukan dan terhempas tepat dibawah salah satu batang pohon besar aneh yang berbentuk seperti payung itu.

     Didalam sisa-sisa kesadarannya kembali terlintas serpihan-serpihan memori beberapa hari lalu, ledakan dimana-mana, bangunan yang runtuh, suara anak-anak kecil yang menangisi orang tuanya yang mati, jeritan ketakutan dan meregang nyawa, sky blade Pasukan Sin yang tidak terhitung jumlahnya melintas diatas langit Kerajaan Corvus dan senyum terakhir ibunya saat ikut menerjang pasukan darat Sin dan menghilang dalam lautan api, kemudian yang  terlihat hanyalah kegelapan.

---

    Di gurun Bedlens yang luas ini pada siang hari bolong begini, kehadiran manusia sangatlah jarang namun hari ini ternyata ada tiga orang manusia lagi yang melintasi gurun Bedlens tersebut. Namun yang ketiga orang ini berbeda, mereka berlari bagaikan angin diatas pasir yang panas tersebut. Ketiga orang itu adalah tiga orang gadis yang memakai baju berwarna merah merah dan hampir terlihat sama desainnya.
     Ketiga gadis itu, dua orang bertubuh kecil dan tampak masih sangat muda usianya, mereka sekitar belasan tahun dan gadis satunya tubuhnya jauh lebih tinggi dan umurnya sudah lebih dari 20 tahunan. Gadis yang lebih tinggi mengendong salah satu dari dua gadis yang lebih kecil tersebut walaupun sambil mengendong tapi kecepatan larinya masih luar biasa, gadis yang digendong seolah-olah tidak mempunyai berat sama sekali.

     “Kak Firya nanti setelah misi selesai dan kita pulang ke Akademi gantian aku ya yang digendong” ujar gadis bertubuh kecil yang ikut berlari, rambut panjang peraknya berkilauan diterpa sinar matahari dan poni-nya berkibaran ditiup angin karena kecepatan larinya.
     “Aduh Renee jangan manja ah, kamu kan tidak punya cedera kaki seperti Suzaku, jangan minta gendong juga dong”. Menyahut gadis yang postur tubuhnya lebih tinggi. Yang unik dari gadis ini rambut merahnya yang diikat kebelakang ujung-ujungnya tampak menyala-nyala membara terbakar tapi api itu tidak menghanguskan rambutnya dan gadis kecil yang sedang digendong dipunggungnya.
     “Abisnya kok cuma Suzaku yang digendong”. ujar Renee sambil memasang tampang cemberut. Gadis yang digendong menjulurkan lidahnya pada Renee.
     “Eh kak Firya tahu ga, sebenarnya Renee itu cemburu sama kakak loh soalnya gendong aku teehee”. Gadis yang digendong mengoda Renee. Gadis kecil yang digendong Firya ini bernama Suzaku, karena suatu kecelakaan dimasa kecilnya kakinya cedera permanen walaupun masih dapat berjalan namun tidak kuat bila digunakan berlari.
     “HEEHHHH !!! Cemburu apaan, buat apa cemburu sama kakak Firya !!!”. Wajah Renee yang sudah merah karena panas matahari semakin menjadi merah saja. dia memalingkan wajahnya kearah lain.
     “Iiiiih keliatan tuh mukanya merah hehe”. Goda Suzaku.
     “NGGAAK!!”. Sahut Renee ketus.
     “Sudah-sudah kalian ini, lagian aku mengendong Suzaku kan biar kita bisa bergerak lebih cepat, nanti kita keduluan tim Arlene loh, kalau mereka dapat benderanya lebih dulu kita yang kalah kan”
     “Ayo mau apa kalian kalah sama Arlene, Marysa dan Keiken”
     “GAK MAUU!!!”. Sahut Renee dan Suzaku berbarengan.
     “Kak Firya apa sebaiknya kita mencari tempat yang lebih tinggi untuk mendapat penglihatan yang lebih luas ?”
     “Gundukan pasir disini tinggi-tinggi, jadi menghalangi pandangan mata” ujar Renee.
     “Itu ide bagus Renee, mungkin kita bisa naik ke salah satu puncak pohon Socorta itu untuk melihat keadaan sekitar”
     “Iya kak nanti kita cari pohon Socorta yang paling tinggi”. Mata Renee mencari-cari disekeliling tempat itu untuk mencari pohon Socorta yang paling tinggi dan dia menemukannya.
     “Kak Firya lihat kearah jam 9, keliatannya itu pohon Socorta paling tinggi di sekitar sini” tunjuk Renee.
     “Ah benar juga, itu pohon Socorta paling besar dan paling tinggi yang kita temui sepanjang kita berlari hari ini, ayo kita kesana dulu”
     “Asik boleh sambil istirahat berteduh ya kak” timpal Suzaku. Mereka bertiga pun berlari menuju ke pohon Socorta tersebut.

 to be continue ...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More